Lionel Messi identik dengan kostum garis-garis dua warna. Akan tetapi, warna kombinasi biru-merah milik Barcelona membuat Messi jauh lebih bersinar ketimbang saat dia bermain dengan memakai kombinasi biru langit-putih milik Timnas Argentina.

Messi disebut-sebut pantas masuk jajaran pemain terbaik sepanjang sejarah sepak bola. Bahkan menilik kemampuan individunya, banyak pula yang tidak ragu menyebut dirinya sebagai pemain terbaik sepanjang sejarah, di atas Pele dan Diego Maradona.

Pujian dan tuntutan tersebut tentu menghadirkan tekanan berat untuk Messi, mulai saat ini hingga Piala Dunia nanti. Usianya yang menginjak 31 tahun di 2018 membuat tekanan untuk Messi bertambah karena Piala Dunia 2018 seolah jadi kesempatan terakhir saat periode emas kariernya berlangsung.

Jika acuannya statistik di Barcelona, tentu tidak akan ada yang bisa membantahnya. Namun tidak demikian halnya bila penampilan di Tim nasional Argentina ikut disertakan bersamanya.

Nama Messi sebagai pemain terbaik dunia abad ini, bahkan untuk ukuran era saat ini, dalam tanda tanya besar. Messi sama sekali belum berhasil mengantarkan timnas Argentina juara, bahkan di level Copa America.

Messi bersama tim nasional Argentina sebenarnya menunjukkan performa konsisten dalam beberapa tahun terakhir, jauh lebih baik ketimbang sang rival bebuyutan, kesebelasan Brasil yang hancur lebur.

Argentina selalu berhasil menjajak babak final pada Piala Dunia 2014, serta Copa America 2015 dan 2016, tetapi semua perjalanan itu berakhir dengan posisi runner-up.

Statistik sempurna bersama Barca membuat pemain berjuluk La Pulga ini kian merasa terbeban dengan kegagalan membawa Argentina menjadi juara. Fakta lain bahwa Messi sudah bersinar di usia belasan membuat kegagalannya bersama Argentina kian disorot.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *